Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan

6. Belajar lah dari seorang steven Gerard ikhwan…



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kita bermunajat syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikanNya kepada kita.
Dan shalawat dan salam senantiasa tetap tercurah kepada Nabi Muhammad shallahu Alaihi wa sallam,kepada keluarga beliau,shahabat beliau dan kepada kita semua .Amma ba’du.

Ikhwani yang dimuliakan Allah.
Kita tahu bersama ikhwani, bahwa pada tahun 2005 tepatnya di salah satu stadium di yunani telah dilakukan kegiatan akbar yaitu final liga Champions. Ya, klub asal ibukota London, Inggris yakni Liverpool bersua klub Asal kota pizza ,Italia yakni AC MILAN pada laga final Liga Champion.

Ikhwani yang dimuliakan Allah.
Kita juga tahu pada awal-awal babak pertama Liverpool sulit untuk mengembangkan permainannya, sehingga tiga gol tanpa balas dibabak pertama bersarang dibawah mistar gawang Liverpool. Namun,ikhwani.Setelah dilakukan sedikit perubahan strategi di kubu Liverpool maka selang beberapa saat setelah turun minum , Liverpool pun dapat memecah kebuntuan. Lewat sundulan kepala sang kapten, Steven Gerard. Liverpool mampu mengejar sampai akhirnya gol yang tercipta sampai tiga buah,sama kuat.

Dan akhirnya,drama adu penalty pun tidak bisa dielakkan. Tentunya dengan semangat yang berbeda antara Liverpool dan AC Milan, kedua tim pun akhirnya melakukan Adu penalty. Dan singkat cerita. Akhirnya, Liverpool menang atas AC MILAN.

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Tentulah ada pelajaran besar yang dapat kita ambil dari peristiwa akbar ini.Bahwa dalam kemenangan besar ini tidak terlepas dari peranan sang Mildfielder Steven Gerarad. Ada apa dengan Steven Gerard ??? Ternyata,di sepanjang laga ketika Liverpool tertinggal 3 – 0 Gerard selalu memberikan motivasi kepada rekan-rekan untuk membuat gol balasan. Dan alhasil,liverpooll menyamakan kedudukan 3 – 3. Padahal kalau ingin dilihat dari segi permainan dari stev.Gerard maka biasa – biasa saja.

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Kalau kita teliti lebih dalam ternyata, Steven Gerard memiliki satu kelebihan yaitu dapat memberikan motivasi dan solusi kepada rekan-rekan nya ketika Liverpool tertinggal 3 – 0 dari AC MILAN.
Sebagaimana Steven Gerard , maka seorang da’i (Mujahid kampus), ikhwani pun tentu perlu harus memiliki solusi-solusi terhadap permasalahan dakwah di lingkungannya (dalam hal ini di kampus Unhas). Terlebih lagi,ikhwan tersebut adalah seorang koordinator. Maka,fungsi dan peran seorang koordinator pun sangat sentral. Kenapa? Karena seorang koordinator ibarat induk mesin yang apabila ia mati maka fungsi dari mesin - mesin yang ada disekelilingnya pun akan mati. Olehnya,koordiator pun dituntut agar tetap “panas”(bukan marah-marah) agar bisa menularkan panas tersebut kepada orang-orang yang ada disekelilingnya.

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Perkara-perkara dakwah adalah perkara yang mulia. Kalau kita ingin melihat sedikit ke belakang,maka perkara-perkara dakwah adalah perkara yang disematkan kepada orang-orang yang dimuliakan oleh Allah,para An biya,para Khulafaurrasyidiin. Dan kalaulah kita ingin melihat siapa diri kita maka betapa tidak pantasnya kita untuk mengemban amanah dakwah ini sebab perkara Agama ini adalah perkara-perkara yang mulia.Dan ,ikhwani.Ternyata Allah memilih kita dari sekian banyak mahasiswa yang ada di unhas untuk mengemban tugas tersebut.

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Adakah pemain bola yang ketika ia dikontrak oleh suatu klub bola maka ia akan rela untu menjadi pemain cadangan ??? Tentulah ikhwani kita akan sepakat bahwa tidak mungkin ada hal seperti ini. Dan lain halnya ketika ada seseorang yang dikontrak dengan bayaran yang tinggi,kira – kira apa yang akan dilakukan ??? Tentulah ,ia akan mengeluarkan segenap kemampuannya untuk memberikan kontribusi positif bagi klub yang mengontraknya. Dan yang pasti ia tidak akan mungkin mau untuk menjadi pemain cadangan (penonton). Sebagaimana bola tadi ikhwan, maka seperti itu juga dengan dakwah. Ketika Allah mengontrak kita (dengan memberikan kepahaman Agama) maka sepantasnya lah kita ingin memberikan kontribusi positif dalam perjuangan Agama ini. Dan pastinya,kita tidak ingin hanya bisa menjadi penonton ketika para ikhwan dan Akhawat bercapek-capek dan berlelah-lelah dalam melakukan kegiatan-kegiatan Agama.

Dalam surah Al Insan ayat ke 29 sampai dengan 30,Allah berkalam:

29. Sesungguhnya (ayat-ayat) Ini adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.
30. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan pastilah kita yakin akan adanya balasan Allah terhadap kontribusi kita dalam perjuangan Agama ini berupa surga Allah yang kita senantiasa berharap dapat meraihnya.
Allah juga berkalam:

30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu".


Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Namun,dalam perjalanan dakwah ini tentunya sangat panjang dan berliku.Olehnya,dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi dalam menapakinya.Terkadang kita akan dihadapkan dengan sikap sesama ikhwan yang barangkali sangat membuat kita jengkel ataupun akan memberikan buruk sangka kepada ikhwan tersebut. Namun,Allah menegur kita ikhwani .Allah berkalam :

28. Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Dan Allah pun menguatkan kita dalam surah Ali Imran ayat 200

200. Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Bayangkan Ikhwan, Allah dalam ayat ini menegaskan bahwa kita harus benar-benar bersabar dalam mengemban amanah-amanah dakwah. Ini bertanda bahwa,orang –orang yang terpilih sebagai seorang da’i harus memiliki kesabaran tingkat tinggi (tentunya berbeda dengan khayalan tingkat tinggi peterpan). Artinya apa ? memang amanah dakwah, pekerjaan – pekerjaan dakwah bukanlah perkara atau pekerjaan yang disematkan atau dialamatkan untuk sembarang orang. Melainkan,ia adalah perkara atau pekerjaan yang tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mencicipinya. Olehnya,bergembiralah ikhwani ketika amanah-amanah dakwah datang menyapa kita. Dan berikanlah terhadap Agama ini apa yang bisa kita berikan ,dan jangan lah pernah menghitung apa yang telah kita berikan terhadap agama ini.Sebab mengapa ? Sebab,ketika Allah subhanahu wa ta ‘ala tidak pernah menghitung-hitung apa yang Dia berikan kepada kita.

Seharusnya,ikhwani.
Kita lah yang mesti mengistrospeksi diri kita, siapa sebenarnya kita. Untuk apa kita diadakan oleh Allah di muka bumi ini. Dan kemana kita akan melangkah ketika kita telah meninggalkan dunia ini.

36. Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam.
37. Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan bumi, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.



Demikian Ikhwani,
Apa yang bisa kami sampaikan.Dan kami berharap kepada Allah semoga dengan tulisan singkat ini bisa memberikan hal yang bermanfaat kepada Ikhan sekalian.
Subhanakallahumma wa bihamdika.Asyhadu Allah ilaha illa anta.Astagfiruka wa atubu ilaika.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

By ZULFAJAR MATH‘08 MIPA UNHAS




4. Eksistensi Hidup di Dunia

Oleh : Ibnu Hasan

Saudaraku,
jauh sebelum eksistensi kita terdefenisi adalah saat dimana kita tidak menyadari, tidak berfikir dan tidak pernah bertanya “Siapa saya, dimana ini ?”, saat kita tidak menyadari kenapa terpilih dan terlahir di dunia?. Kini, setelah tumbuh dan beranjak dewasa, ilmu pengetahuan pun bertambah, eksistensi diri kian jelas.
Sayangnya sedikit diantara kita yang hendak menyelami, bertanya dan mengkaji
kembali,
“Dimana saya sebelumnya ?”,
“Kenapa saya mesti ada di dunia ini dan untuk apa?”
“Akan kemana setelah hidup ini ?”
Yah, ketidak pekaan mencari, bertanya dan mengetahui hal itu berujung pada sikap mengambil langkah yang salah dalam menindaki hidup yang sangat singkat dan sementara ini.

Benarlah perkataan sebagian ulama, mereka yang selalu mentadabburi ayat-ayat Allah dan hadits Rasul-Nya yang mulia akan semakin tawadhu dalam hidup. Sebaliknya mereka yang hanya senang dengan pembicaraan seputar filsafat terlihat acuh dalam bersikap, tampak sombong dan senang aktualisasi diri alias pamer diri. Betapa tidak, kalau ayat-ayat dan hadits-hadits Rasul-Nya akan menjawab segala permasalahan eksistensi diri seseorang, “Dari mana, untuk apa dan akan kemana ?”, maka filsafat akan bertanya “Mengapa... mengapa... mengapa... dan mengapa?”, menjadikan seseorang (para pengkajinya) mengharap orang lain mengacungkan jempol padanya lalu mengatakan, “Hebat!, retorika kamu hebat!, alur berpikirmu sistematis dan masuk akal.”

Saudaraku dengan keterbatasan ilmu dan kesederhanaan berfikir, kami ingin berbagi sedikit pengalaman, mengkorelasikan ketiga pertanyaan di atas dan menuangkannya dalam tulisan ini. Mari kita mulai!

 Ketika di Alam Arwah, Ruh kita (ruh seluruh manusia dari awal hingga akhir) diambil kesaksiannya oleh Allah sebagaimana Ia kisahkan dalam Qalam-Nya Surah Al-A’raaf ayat 172,

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?",

saat itu dengan tanpa keraguan kita (para ruh) menjawab:

"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".

Tahukah Saudara ? Allah mewanti-wanti dengan pertanyaan singkat terselubung amanah dan tanggung jawab yang besar itu, agar di hari kiamat kelak kita tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Atau berdalih, “Kami telah mendapati bapak-bapak kami menyekutukan-Mu. Kami hanyalah generasi yang terlahir setelah mereka. Apakah kami akan dihukum sebab kesalahan orang-orang sebelum kami?". Nah, dengan kesaksian itulah, Allah melalui perantaraan malaikat Rahmat-Nya, meniupkan Ruh ciptaan-Nya itu ke dalam rahim ibu ketika usia kandungan empat bulan sepuluh hari.

 Sekarang mari garis bawahi statement ini baik-baik, ”Alam Rahim adalah Alam Penyempurnaan Jasad” apakah terdengar berlebihan ????
Tentu tidak, demikian itulah kebenarannya. Allah sendiri yang mengabarkannya dalam surah As-Sajdah ayat 9 berbunyi,

”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

Alam rahim adalah alam dimana jasad kita disempurnakan oleh Allah, organ-organ dalam dan luar tubuh diciptakan.

 Hal yang sangat perlu dikaji bersama adalah sekiranya bayi yang masih dalam rahim itu bisa berfikir atau bernalar dan mengedepankan akal, tentulah ia akan protes kepada Allah, misalnya dengan mengatakan,

”Ya Allah!!!, untuk apa Engkau beri aku kedua tangan, kedua kaki, untuk apa mata ini, telinga ini, untuk apa???!!!” ...

”Ya Allah!!!, kenapa bukan Ari-ariku saja yang diperbanyak, agar suplay makanan lebih banyak masuk ke tubuhku, kenapa?!!!”,

sepintas kedengarannya benar, dalam tiga kegelapan itu bayi memang lebih membutuhkan ari-ari ketimbang tangan, kaki, mata, telinga, dan organ-organ tubuh lainnya.

Allah yang menciptakan, dan Allah pula yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Sebagaimana penggalan surah Al-baqarah ayat 30, Allah berqalam,

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi segala rahasia di langit dan di bumi. Memang kala itu (dalam rahim), kita belum menyadari pentingnya alat-alat indera yang diberikan Allah dengan kemurahan-Nya, tapi tidak berarti kita tidak membutuhkannya.

Lihatlah ketika bayi itu lahir dipermukaan bumi dengan taruhan nyawa sang ibu. Perhatikan apa yang diputuskan oleh bidan, perawat atau dokter dari perut sang bayi yang mungil itu!. tidak salah lagi, ari-ari yang menjadi satu-satunya alat suplay makanan bagi bayi di dalam perut Ibu, ari-ari yang sangat diharapakannya dahulu untuk bisa diperbanyak, ternyata dialah yang harus diputuskan pertama kali setelah berpindahnya bayi dari alam rahim ke Alam syahadah ( Dunia ). Dan kini sadarlah bayi itu setelah beranjak dewasa betapa pentingnya tangan, betapa pentingnya kaki, mata, telinga dan indera-indera lainnya. Dan bersyukurlah dia karena Allah menyempurnakan jasadnya di alam rahim dulu.

 Saudaraku, sekiranya di dalam rahim Allah menakdirkan pembentukan jasad bayi tidak sempurna (cacat). Maka , ia akan terlahir dalam keadaan cacat bukan?. Tahukah engkau wahai saudaraku bagaimana perihal orang yang cacat itu?!!!! Sekiranya mereka yang cacat itu mengadu dan meminta kepada Allah. Sekalipun dengan tangisan darah agar Allah berkenan mengembalikan ia ke dalam rahim supaya jasadnya yang cacat itu bisa disempurnakan, apakah akan terjadi?!!!. Tidak!. Itu tidak akan mungkin dan tidak akan pernah terjadi.

Kalau sekarang kita sepakat bahwa Alam Rahim Adalah Alam Penyempurnaan Jasad, lantas Alam dunia ini kita sebut alam apa???!!!

 Saudaraku, Perjalanan seribu mil atau sejauh apapun untuk sebuah kesuksesan, berawal dari satu langkah. Tetapi memastikan langkah yang pertama itu benar atau salah, butuh pendefenisian yang jelas tentang kesuksesan itu sendiri. Tentang keberadaaan hidup di dunia ini tidak bisa tidak, harus jelas dia alam apa?

Benar atau salah dalam pendefenisian tentangnya, akan sangat berpengaruh dalam mengawali langkah hidup di atasnya. Ini penting, sebab kesempatan hidup
di dunia ini hanya sekali, tidak dua kali.

 Nah sekarang mari kita tela’ah, bagaimana Allah pencipta dan pemilik dunia ini menyebut tentangnya (dunia). Misalnya, dalam Q.S.Al-Mu’min (40) ayat 39 berbunyi,

”..... sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”

Juga terdapat dalam Q.S Al-An’am (6) ayat 32 yaitu,

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Masih banyak ayat yang senada dengan itu, melangkahlah mendekati mushaf Al-Qur’an! periksalah Q.S.Al-An’am:70; Q.S.Al-A’raf :51; Q.S. Al-Ankabuut:64; Q.S.Muhammad:36. Pada intinya dunia tempat kaki kita berpijak sekarang ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya. Segala harta yang dikumpulkan, rumah yang dibangun, kedudukan yang diraih dengan simbah peluh berkuah keringat, memiliki akhir. Kesenangan dan kesedihan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kelapangan dan kemiskinan, kesuksesan dan kegagalan, kesusahan dan kemudahan dipergilirkan bagi setiap manusia sebagaimana Allah mempergilirkan malam dan siang. Tiada keabadian di dalamnya.

Mari bandingkan dengan ayat ini (Q.S Az-Zukhruf(43) :35),

”Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia …..”,

dan baca juga ayat sebelumnya ayat 32,
”Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,…”.

Apa yang bisa kita simpulkan?!!, ini namanya TA’AMMUL AYAT. Paling tidak, pemahaman kita sekarang tentang dunia sedikit tercerahkan bahwa Allah menciptakan dunia ini untuk manusia. Tetapi Allah tidak menciptakan manusia untuk dunia. Kalau demikian, Dunia ini adalah keperluan hidup tapi sekali-kali dunia bukan tujuan hidup. Persis dengan kondisi kita yang butuh WC untuk suatu keperluan, tapi adakah yang mau berlama-lama di dalam WC ?!!!

 Semoga saja saya tidak terburu-buru menarik kesimpulan dan memaksa saudara menyepakati bahwa Alam Dunia ini adalah Alam Penyempurnaan Iman dan Amal. Setelah kita mengenal sifat dunia dari Al-khalik yang mensifatinya, masihkah kita diliputi keragauan untuk menyetujui statement di atas.

Saudaraku,
menurutmu kenapa Fir’aun, Qarun, Hammam, Ubay bin khalaf dilaknat di dunia dan di akhirat ?.Sebaliknya, kenapa bilal bin Rabah, ’Ammar bin Yasir, Khabbab bin Arats di muliakan di dunia dan di akhirat ?, kenapa ?!!! saya beharap saudara mengenal tokoh-tokoh yang saya sebutkan itu.

Tidak diragukan lagi, Fir’aun, Qarun, Hammam, Ubay bin khalaf mereka dilaknat bukan karena ketidakberhasilan mereka meraih kekuasaan, mengumpulkan kekayaan, dekat dengan penguasa, atau karena tidak berhasil dalam bisnis.

Mereka dilaknat di dunia dan di Akhirat karena cinta berlebihan terhadap dunia dan perhiasannya, tidak bersegera menyambut seruan Rasul, dengan kata lain tidak ingin memperbaiki lalu menyempurnakan Iman dan Amalnya sebagai bekal perjalanan di alam selanjutnya. Siapa yang tidak kenal Fir’aun? Yang memiliki kedudukan tinggi di mata rakyatnya, saking tingginya dia berani mengatakan ”Ana Rabbukumul A’laa” (sayalah tuhan kalian yang paling tinggi) lihat Q.S.79:24 .

Siapa yang tidak kenal Qarun? Yang berhasil mengumpulkan harta yang begitu berlimpah ruah, bahkan belum ada manusia setelahnya hingga sekarang ini, yang menandingi banyaknya harta yang dimilikinya. tetapi kesombongan merasuk kuat ke dalam dadanya. Ia enggan berinfak dan bersedekah di jalan Allah, karena dikiranya nikmat itu, murni atas jerih payahnya sendiri, padahal Allah berqalam,

”Wamaa bikum min ni’matin faminallahi” (Dan apa saja nikmat yang ada padamu, datang dari Allah) lihat Q.S.16:53.

Begitupula Hammam yang menolak kebenaran Nabi Musa a.s karena ingin mencari muka di depan Fir’aun dan ia pun mendapatkannya. Lain lagi dengan Ubay bin khalaf L.a yang mendapat kesempatan hidup di masa nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, namun lebih memilih untuk larut dalam bisnis dan perdagangan bahkan bersumpah akan membunuh Nabi, ketimbang memilih untuk membenarkan dan membela apa yang diserukan oleh beliau yang mulia. Sekali lagi mereka adalah tokoh yang pernah berkesempatan lahir di muka bumi namun gagal memahami eksistensi hidup, tak tahu arti tujuan hidup, hingga ia pun memasuki alam setelah dunia ini dalam Kondisi Cacat Iman Dan Amalnya.

 Adapun tokoh-tokoh yang kami sebutkan semisal bilal bin Rabah, ’Ammar bin Yasir, Khabbab bin Arats, adalah budak yang jangankan harta atau kedudukan, diri mereka sendiri tidak mereka miliki. Diri mereka adalah milik majikan yang membelinya. Sehingga sudah tabiat mereka untuk menyenangkan majikan dalam ucapan dan perbuatan mereka. Namun tidak, ketika islam merasuk kuat dalam dadanya, mereka harus berani melawan majikan yang hendak mengeluarkan dan memisahkan Islam di hati mereka. Apapun konsekuensinya, sekalipun nyawa harus melayang. Sub’haanallah, itulah mereka yang berhasil menyempurnakan Iman dan amalnya di dunia hingga kemuliaan pun datang pada mereka di dunia dan di Akhirat.

 Saudaraku, sungguh kehidupan di dunia ini hanyalah kumpulan hari-hari, setiap hari akan berlalu lalu berganti dengan hari yang baru sampai jatah hari yang diberikan Allah untuk mendiami dunia ini berakhir. Itulah kematian, ketetapan Allah yang pasti akan kita temui, siap atau tidak. Marilah kembali merenungi penggalan ayat Allah, tertera dalam Q.S. nuh (71) ayat yang ke 4, ”.... Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui” .

Ya, kematian tidak akan bisa diundur walau hanya sepersekian detik. Saudaraku,
bukanlah kematian itu yang menjadi permasalahan kita disini melainkan
sempurna ataukah tidak iman dan amal kita saat itu.

 Sekiranya, kita termasuk mereka yang meninggalkan dunia ini dalam keadaan cacat iman dan amal maka penyesalan demi penyesalan akan jelas terlihat di wajah ketika Allah memandang dengan pandangan murka, permohonan ampun penuh harap pun tak terhitung berapa kali terucap di bibir kita. Coba renungkan ayat ini Surah As Sajdah (32) ayat 12,

” Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." .

Saat itu kita menyadari dengan sebenar-benar kesadaran betapa kedudukan yang
kita upayakan, kekuasaan yang kita raih, harta yang dikumpulkan serta perhiasan dunia lainnya yang kita kejar selama ini, yang kita sangka dapat memberi kebahagiaan justru semua itu akan diputuskan pertama kali saat kaki tak lagi bisa berpijak di bumi selamanya. iman dan amal shalih yang dulunya kita tidak besungguh-sungguh terhadapnya, sebaliknya kita malah memandang sebagai penghalang urusan dunia, justru dialah yang mampu mengundang rahmat dan kasih sayang Allah di akhirat, dialah kebahagiaan sejati. Kitapun meminta kepada Allah agar dikembalikan ke dunia walau sesaat saja agar kita bisa menyempurnakan keimanan dan amal shalih yang telah dialalaikan.Lantas bagaimana Allah menanggapi permintaan itu,

”Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja”
(Q.S.23:100).

Saudaraku, ketahuilah sekalipun tangisan darah yang harus keluar dari kedua mata meminta hal itu maka Allah tidak akan mengabulkannya sebagaimana bayi yang lahir cacat takkan mungkin kembali ke rahim, maka manusia yang cacat Iman dan amal tidak akan mungkin kembali ke dunia.
 Sauadaraku, hidup di dunia ini singkat dan sementara, namun sangat menentukan
apakah kita bahagia atau tidak di akhirat kelak. Sebagai penutup tulisan yang sederhana ini aku berpesan pada diri sendiri dan saudara yang membaca tulisan ini,

”Musibah terbesar bukanlah kehilangan harta dan perhiasan dunia, bukan pula karena kedudukan yang tak mampu di raih. Tapi...,Musibah terbesar adalah matinya suara hati yang menjadi penyebab jauhnya jiwa dari dzikir kepada Allah
Azza Wa Jalla.”

Nah saudara-saudaraku, besar harapan semoga tulisan ini berdampak kebaikan bagi kami yang menuliskannya, tentu kebaikan pula bagi yang membacanya namun yang terbaik diantara kita adalah mereka yang mampu mengamalkannya. Jangan lupa Kunjungi terus alamat kami di : duniamujahid.bolgspot.com lalu kirim kritik, usulan, saran atau tulisan anda di e-mail kami duniamujahid@yahoo.co.id. Barakallahu Fiikum.


Status

Foto saya
Hubungi kami di 085213432543

Pengikut